Selasa, 06 Agustus 2013

Coba tebak :)

    Manusia memang tiada artinya tanpa masalah. Karena masalah itu akan mengangkat kepalamu dan membuatmu untuk membusungkan dadamu ketika bertemu dengan mereka. Dan yang paling penting diantara posisi-posisi badan yang sebelumnya ku sebutkan, kamu harus memiliki sebuah rasa. Rasa itu tidak bisa didapat di mana-mana. Dan rasa itu tidak bisa kamu beli walaupun dengan uangmu yang banyak.Ikutilah semua kata-kata yang nantinya akan membawamu untuk menemukan apa yang aku maksud. Rasa yang ku maksud terdiri dari 4 huruf. Dan jika dibagi, 4 huruf itu terdiri atas 2 huruf vocal dan 2 huruf mati (konsonan). 4 huruf itu biasa saja, dan tidak ada yang istimewa dari mereka. Mereka itu bermacam-macam. Dan, jika mereka disatukan maka kamu akan menemukan jawabannya.
    Huruf pertama, merupakan huruf yang memegang urutan ke 16 dalam deret abjad. Jika kau berhasil menuliskannya dengan sempurna, huruf ini memiliki satu garis lurus dengan setengah lingkaran yang menempel pada garis atasnya. Dan keadaan itu menggambarkan, ketika kau memiliki teman baik,jagalah ia supaya tetap ada di garis lurus milikmu sampai akhirnya kalian berhasil sampai di titik akhir. Itu berarti kau mampu mengendalikan keadaan. Huruf 'P'. 
    Huruf kedua. Jika dilihat dari urutannya,huruf ini diapit oleh huruf D dan huruf F. Ada banyak cara menuliskan huruf ini. Lebih terlihat lagi ketika kita tuliskan dengan besar. Satu garis lurus dan tiga garis yang horizontal dan sejajar satu sama lain walaupun terpisahkan. Karena hanya huruf ini saja yang memiliki 3 garis sejajar, dan aku menyebutnya istimewa. Tiga garis itu, menyimpan banyak makna. Ketika kamu punya suatu rencana, kamu menerima banyak saran yang nantinya akan mengubah rencana itu. Hati-hati, kau harus menyempurnakan rasa yang aku maksud. Bisa jadi, jika kamu tidak hati-hati maka 3 garis itu akan berantakan. Kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan nanti. Inilah huruf 'E'
    Dan ini adalah huruf ketiga. Huruf yang memiliki urutan yang ke 11. Pasti kamu mudah mengingatnya,bukan? Ketika kau goreskan penamu untuk menggambarkan garis ini, kamu tak perlu susah payah. Cukup dengan satu garis lurus dan dua garis yang menyerong ke arah luar. Kamu pasti mengenalnya. Dan lihat dua garis yang menyerong itu, berlawanan. Sama saja artinya ketika kamu dihadapkan oleh dua orang yang sifatnya sangat berlawanan. Dan apa yang harus kamu lakukan? kamu akan temukan jawabannya sedikit lagi. Huruf 'K'
    Dan yang terakhir, huruf keempat namun memiliki urutan pertama dalam deret abjad. Istimewa sekali ketika kamu berhasil menuliskannya dengan sempurna. Karena disaat itu, kamu pasti menemukan maknanya. Berawal dari satu titik puncak di atasnya yang kemudian terpisah menjadi dua garis yang sejajar namun arahnya berbeda dan satu garis tengah yang menghubungkan keduanya. Apa kamu mulai mengerti tentang huruf ini? Huruf 'A'.
    Dapatkah kamu susun keempat huruf yang aku jabarkan tadi? Rasa itulah yang aku maksud. Rasa itu sangat penting sekali ketika kamu memiliki masalah. Kamu harus menjadi huruf 'P' yang mampu mengendalikan semuanya, khususnya emosi yang mungkin mudah tersulut ketika kamu menemukan sebuah keadaan yang sangat berlawanan dengan pemahamanmu. Jangan lupa, huruf 'E' juga penting. Karena dengan huruf itu, kamu bisa meilhat contohnya. Mungkin beberapa ide dari mereka mulai menjejali pikiranmu, namun kau harus berlaku adil dan memerhatikan dampak baik dan buruknya supaya semuanya tidak berbenturan dengan apa yang kamu rencanakan. Tidak kalah pentingnya peranan huruf 'K'. Disinilah kamu dituntut untuk berpikir secara luas ketika menghadapi temanmu yang mulai berjauhan. Dan huruf 'A', memang tidak jauh beda dengan 'K'. Kamu dituntut untuk menjadi seprang 'tritagonis' diantara 'anta' dan 'prota'. 


Apakah kamu dapat menemukan jawabannya? Jika kamu dapat menyimpulkan sikap-sikap yang ku jabarkan tadi, berarti kamu 'PEKA' :)  

Sabtu, 22 Juni 2013

My Dreams

      Kau pernah bermimpi? Walaupun pada kenyataannya, kau tak mampu berbuat apa-apa dengan tanganmu yang hampa. Pernyataan itu sangat sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Dan terlebih lagi,orang-orang yang ada di sekitarmu. Belum tentu searah dengan keadaanmu. Kau menginginkan sesuatu yang menurutmu dapat membuat bibir itu melengkung dengan manis, namun menurut mereka kau harus mengernyitkan alismu dengan akal sehatmu. Sungguh mereka yang tidak masuk akal. Aku ini tidak pernah berharap untuk dimengerti oleh mereka, walaupun dunia ini menuntutku untuk berbaur dengan mereka. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menggantungkan mimpiku ini sendiri, jika kau ingin bergabung silahkan saja :D ini baru mimpi kecilku, suatu saat nanti pasti akan aku perbaharui...tunggu saja

        Mimpiku..
       Melihat jutaan bintang yang bertaburan di atas sana. Seakan mereka tahu apa yang aku lakukan bersamanya. Melukiskan mimpi yang hebat ini bersama yang teristimewa. Dengan menghubungkan titik-titik yang nantinya akan membentuk sebuah garis dan selanjutnya akan terbaca saat waktu itu tiba. Suatu saat nanti kami akan memanennya :)

       Mimpiku...
       Menyaksikan ombak-ombak yang berbenturan dengan batu karang di pantai Kuta. Lalu membiarkan langkah-langkah ini mengalun dengan indah di atas pasir putih. Mengayun dengan perlahan namun pasti, impian besar itu sudah semakin dekat.

       Mimpiku....
       Merasakan sejuknya udara di gunung Bromo. Tak peduli dengan banyaknya pakaian yang menyelimuti tubuh ini. Terlihat dengan tangan kosong walaupun pada kenyataannya justru menggenggam sejuta impian dengan erat. Tak akan hilang walaupun angin menerpa tubuh yang lemah ini.


      Itu baru 3 mimpi kecilku yang sangat sederhana. Dan dengan mimpimu yang klasik, kuharap kita bisa menggabungkan mimpi-mimpi kita sehingga kisah kita lebih berwarna dan menggembirakan. Ku harap,kau akan terus mengingat hari ini,walaupun dalam pertemuan singkat,,ba:)


       Jakarta, 00 : 08 AM
       This is my dreams.with the prince of Tamborine star
       For you My Wonderful World
        

Kamis, 20 Juni 2013

My Story-

          Apakah kau pernah merasa dikucilkan? Atau diabaikan oleh mereka? Aku punya kisah seseorang dimana hanya kesendirian yang menjadi teman bermainnya sehari-hari. Aku tau, sesungguhnya seseorang itu tidak sendiri. Ada banyak sekali warna-warna indah disekitarnya. Dan pasti kau bisa memahami apa yang dia rasa saat itu.
      Berawal pada suatu hari yang sebelumnya sudah diprediksi oleh Puti--gadis berkacamata yang usianya masih 16 tahun menjadi hari yang sangat menyenangkan. Dimana semua orang akan bersenang-senang dengannya. Gadis itu tidak memerdulikan semua hal yang mengganggunya. Dan dengan mudahnya ia melepaskan langkah-langkah itu dan mulai menjemput kegembiraan disana.
    "Apa yang kau inginkan?"
          "Aku bawa sandwich untuk kalian. Tadi pagi, aku melihat sekantung roti yang masih utuh dan beberapa sayuran di kulkas. Jadi aku membawakan ini untuk kalian."
             "Ah baiklah kalau begitu. Kau letakkan saja di situ. Nanti akan kami makan."
             Begitu Dini menyuruh Puti untuk meletakkan sekeranjang sandwich di atas meja, Puti langsung tergerak dan meletakkannya di atas meja kayu di dekat pos satpam.
             "Din, hari ini apakah kau ada acara?"
             "Kau mau apa?"
            "Hari ini, aku punya sesuatu di taman. Sore nanti. Kau datang ya! Jangan lupa ajak Nera, Lisa, Ovit, dan Kiki"
             "Kita lihat saja nanti"
             Jawaban yang kelihatannya acuh itu membuatnya kecewa. Namun ia berusaha menghadirkan senyuman itu untuk Dini, perlahan dan akhirnya ia dapat melebarkannya. Tak terasa, bel pertanda jam pelajaran akan dimulai sudah berbunyi. Puti yang saat itu berada di depan gerbang segera menunduk dan langsung pamit kepada Dini.
          "Tak apa-apa mel, mungkin dia sedang banyak masalah"
          Begitulah kalimat yang terus ia ucapkan pada sebuah boneka kecil kesayangannya. Sejuknya angin ketika bertiup membuat Puti merasa nyaman berada di taman ini selama berjam-jam. Menimbulkan kesan tersendiri bagi anak itu. Sederhana namun menyenangkan. Begitulah sifat anak itu. Tak terasa matahari sudah  berada tegak lurus dengan kepalanya itu. Menyadari hal itu, Puti bergegas kembali ke tempat itu untuk menemui Dini-sahabatnya yang tadi pagi ia temui.
            "Dini!!"
             "Ya ada apa ya?"
             "Gimana rasa sandwichnya? enak kan?"
          "Maaf ya Put, teman-temanku tidak suka. Seladanya bau. Rotinya juga rasanya aneh. Jadi aku tidak memakannya."
          "Hemm ya. Maafkan aku ya, aku selalu menyusahkanmu. Sekali lagi aku minta maaf."
           Sambil menghela nafas, gadis itu terus berusaha untuk tersenyum walaupun saat itu dirinya ingin menangis.
             "Oh iya, jangan lupa nanti sore jan 4 ya Din!"
             "Akan ku pertimbangkan lagi. Lihat nanti ya. Put, aku duluan"
            Akhirnya sekotak sandwich yang masih utuh itu hanya bisa memandangi Puti yang saat itu hanya melamun. Mungkin aku memang tidak pandai memasak,gumamnya di dalam hati. Namun matanya kembali berbinar ketika ia mendapati Rama yang menghampirinya.
             "Hai Put, kamu sedang apa? Kok melamun?"
             "Rama.. Aku tidak apa-apa kok"
             "Jangan bohonglah putt.. Kalo bohong,kamu traktir aku ya"
             "Emm iya iya ram..lagi ga bersinar aja hari ini."
           "Eh kita duduk di sana aja yuk. Aku mau denger cerita kamu. Kamu harus cerita sama aku apa yang bikin kamu ga bersinar hari ini."
             Itulah Rama--sosok yang apa adanya namun membuat Puti merasa senang ketika Rama mendengarkannya bercerita walaupun banyak memakan waktu. Dengan kesederhanaannya ia mampu menghibur Puti. Dan setelah Puti menceritakan masalahnya, Rama selalu memberikan saran ataupun masukan untuk Puti. Dan dialah satu-satunya orang yang mau mendengarkan Puti bercerita selain benda mati yang selalu ia bawa kemana-mana
              "Jadi apa masalahmu Puti cantik?"
        "Kau tau sandwich ini? Sandwich ini enak sekali. Aku ingin sahabat baikku menghabiskannya."
              "Wah jadi ini sandwich?"
              "Nih kalo kamu mau. Silahkan makan saja"
              "Hehe aku makan ya. Tapi kamu jangan sedih begitu dong Put"
           "Tidak,aku tidak apa-apa. Tapi apa kamu tidak takut keracunan? Kata Dini rotinya itu aneh rasanya."
            "Tidak kok. Emmm roti ini tidak apa-apa kok. Tidak aneh Put. Ini enak sekali. Mayonaise ya?"
           "Iya, aku tau kalo Dini suka mayonaise. Tapi aku tidak tau kalo Dini tidak mau makan sandwich ini."
             "Sudahlah Put,jangan terlalu diambil hati. Mungkin Dini sedang ada masalah lain jadinya dia agak aneh ketika berhadapan denganmu. Dan jangan menilai orang lain dari luarnya saja. Kan kita ga tau apa yang ada di dalam hatinya"
            "Hemm ya bisa jadi seperti itu. Ram, kamu ga keberatan kan kalo nanti sore kamu dateng ke taman jam 4? Aku juga ajak Dini dan kawan-kawannya lho. Kamu mau?"
          "Tentu saja. Karena wanita cantik yang telah mengajakku langsung untuk datang, aku tidak bisa menolak"
             Puti akhirnya tersenyum lepas, sejenak melupakan apa yang ia alami ketika bertemu dengan Dini. Namun di sana ada Rama,orang yang selalu membuat Puti tersenyum,dan tertawa karenanya. Puti yang terlalu polos, tak membuat Rama bosan ketika berbicara dengannya. Justru kepolosannya itu yang akhirnya dapat membuat Puti mengungkapkan semuanya.
            Puti merasa mendapatkan kegembiraan lagi seusai bertemu dengan Rama yang baik hati. Walaupun jam tangannya masih menunjukkan pukul 14 namun dirinya terlihat begitu bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Pita-pita dan kertas warna itu terlihat memenuhi kardus kecil yang ia bawa dari rumahnya. Sebelumnya juga ia telah membeli setangkap roti,selada,keju,dan mayonaise untuk membuat sandwich yang baru.
          Burung-burung itu berkicau tidak seperti biasanya. Seakan bertanya kepada Puti ketika ia mengulurkan kertas warna yang panjang dan membentangkannya. 'Hey mau kau apakan sarangku ini?' Namun Puti tetap meneruskan apa yang dilakukannya dan justru berkata kepada burung itu 'Hai burung, sarangmu akan baik-baik saja kok. Terlebih lagi dengan kertas warna-warna ini. Ibarat sebuah crayon, kertas warna ini akan memberikan kesan yang indah untuk sarangmu. Begitu juga dengan kehidupan, dan aku punya crayonku sendiri.'
           Sudah jam 4 tepat. Namun Puti belum berhasil mendapati kehadiran Dini dan teman-temannya,maupun Rama. Dimana mereka? apa mereka lupa dengan hari ini? Namun kenyataan ini tak membuat Puti berkecil hati. Dia akan terus menunggu sampai mereka datang ke sini. Satu demi satu kertas warna-warni yang dibentangkan dari satu pohon ke pohon lain. Puti mencoba membuat mereka lurus seperti semula namun batang pohon itu sangat licin sehingga Puti terpeleset dari pohon itu. Ia sempat meringis kesakitan namun ia tetap berusaha membuat kertas warna itu kembali membentang dengan sempurna.
         15 menit...30 menit...45 menit..sampai akhirnya jam 5 tepat. Mereka semua belum juga datang. Puti yang awalnya termenung menunggu mereka namun tiba-tiba tersentak karena rentetan air dari langit mulai membasahi semua dekorasi yang Puti susun. Setelah berkemas, Puti pun bergegas untuk berteduh di bawah halte. Namun bajunya sudah terlanjur basah karena hujan yang amat deras. Perlahan air mata itu pun turun seiring dengan air hujan yang turun membasahi jalan raya. Puti berjalan sambil membawa dekorasi yang ada di dalam kardus dengan bersusah payah. Kakinya terasa sakit sekali.Ia terus berusaha untuk tersenyum walaupun langkahnya yang sedikit demi sedikit mulai menuntutnya untuk berhenti. Apa di dunia ini tidak ada yang ingin mendengarkanku? Apakah aku ini membosankan? Apa salah jika aku memiliki seorang sahabat ataupun orang terdekat yang mau mendengarkan kisahku yang pilu ini?
           Puti hanya bisa menangis dan menangis. Membenci nasibnya yang tak pernah berubah. Namun ia cukup tahu diri, bahwa tak selamanya ia akan mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Bahkan pada hari ulang tahunnya, awalnya ia hanya ingin berbagi bersama mereka--orang-orang spesial. Terutama Rama. Rama adalah satu-satunya yang mau mendengarkan Puti. Puti merasa kecewa sekali ketika Dini dan teman-temannya tidak ingin memakan sandwich buatannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak hadir. Dan Rama, ia telah berjanji kepada Puti. Namun Rama,orang yang sangat menyenangkan itu lupa akan hari jadi Puti yang ke 17. Rama yang sedang asyik bersama teman-temannya bermain PS di rumahnya merasa terkejut ketika ia melihat Puti yang tengah berjalan dengan susah payah di tengah hujan deras sambil membawa kardus. Oh Rama.....


        Mungkin itu yang bisa aku ceritakan malam ini.. always try to smile, smile, and smile even that's too hurt your heart :)
 
   
   
     Jakarta, 00: 36 AM
     for My Wonderful World



               
                

Minggu, 17 Maret 2013

Kei And Sherl ep2

     Hembusan angin itu terus mengikuti Kei. Kemanapun ia pergi. Bahkan ketika ia sedang berada jauh dari Sherl. Melihat kenyataan itu, ia berharap bahwa angin-angin ini mengerti akan keadaannya. Melawan sesuatu hal yang mungkin ada di luar dugaan. Tak disangka, Kei merasa sangat terpukul dengan keadaan ini. Jari-jari mungilnya hanya bisa menggenggam telapak tangannya dengan erat sambil menikmati terpaan angin yang perlahan-lahan mulai menyentuhnya.
    Sherl--awalnya orang itu hanyalah orang yang sangat Kei benci. Bahkan ia sempat mengikrarkan hal tersebut kepada beberapa temannya yang memang sepaham dengan Kei tentang orang itu. Memukau tapi tidak pada tempatnya,itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut Kei ketika ia mendapati dirinya dapat terkalahkan oleh seseorang yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Kei. Dan yang paling Kei ingat, ia berhasil mencuri perhatian semua orang yang Kei suka. Hei, harusnya itu milikku! Kalimat itulah yang selalu menggebu-gebu ketika Kei dapat dikalahkan olehnya.
    Namun, semuanya berubah ketika Kei akhirnya berada dalam lingkaran yang Sherl punya. Mengesankan. Kei pun tidak akan menyangka. Sherl yang ia kenal sebagai seseorang yang tempramen itu, ternyata memiliki kegemaran yang sama. Saat itu, Kei diminta untuk membantu temannya mengajar di sekolah alam. Bagaikan raut wajah seseorang yang terkejut ketika barang berharganya berpindah tangan. Ya, itulah ekspresi wajah Keiko ketika ia harus berdampingan dengan Sherl untuk mengajar dengan Sherl. Dan pada saat itulah, Keiko yang sudah lama mengenal Sherl yang hanya dari luarnya saja, kini sudah mulai memberanikan dirinya untuk mengenal kepribadian Sherl lebih jauh.
    Sherl--orangnya sangat menyenangkan. Kei selalu menggambarkan Sherl seperti 'Patrick'. Patrick--sahabat Spongebob adalah tokoh yang sangat menggembirakan,namun perbuatannya sangat konyol. Yap, itulah alasan mengapa Kei langsung menamakan Sherl dengan sebutan 'Patrick' pada benda kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Secara tak sengaja, Kei dan Sherl pun berhasil membuat suasana sekolah alam itu menjadi sangat menyenangkan, sama seperti kegembiraan Spongebob dan Patrick ketika menangkap ubur-ubur di ladang ubur-ubur.
    Ia yakin, ia telah tepat menerka seorang Patrick dengan jelas dan seksama. Sekarang yang harus Kei lakukan adalah, memastikan bahwa Sherlnya tidak mengetahui bahwa ia adalah 'Patricknya' Kei. Dan, kei tau kepribadian Sherl yang tidak suka hal-hal yang berlebihan. Padahal hal itu sangat berbeda sekali dengan Patrick yang sangat hiper. Namun, Kei suka Sherl apa adanya, sama seperti Spongebob yang senang ketika Patrick selalu menemaninya, bahkan ketika Spongebob tidak memiliki rumah dan akhirnya Patrick pun memintanya untuk tinggal di rumah,walaupun akhirnya Spongebob tidak nyaman ketika Patrick dan hal konyolnya berbuat sesuatu. Ah Sherl, kau berhasil memutarbalikkan fakta. Semula, aku sangat tidak suka dengan sikapmu. Namun akhirnya, aku bisa menemukan titik itu, titik dimana kita dapat menuju ke suatu cita-cita kita.Dan kita akan terus bersama untuk menyatukan kedua hal itu supaya kedua cita-cita kita terwujud.

Kamis, 14 Maret 2013

Kei And Sherl

        Malam ini terasa begitu dingin. Menusuk sampai ke tulang. Keiko bingung harus berbuat apa. Dengan wajahnya yang terlihat resah tentu tidak bisa merubah keadaan. Lengannya yang ia gunakan untuk menopang  wajahnya yang datar juga terlihat gemetar. Ia tidak bisa tenang saat itu. Mengurung diri dalam kamar mungkin dapat mengobati prasangka buruknya saat itu, seperti yang ia lihat di sinetron TV. Namun nyatanya hal itu tidak berhasil. 
        Keiko kira, dirinya begitu bodoh. Ia tidak bisa membaca keadaan yang ada di sekitarnya. Dan yang paling sulit dimengerti adalah keegoisannya. Awalnya, ia tidak ingin menampakkan hal itu kepada Sherl. Sherl--orang yang kadar keistimewaannya sangat tinggi di mata Keiko, memang memiliki sifat agak sensitif, sama seperti Keiko. Sherl sendiri juga selalu mengerti dengan setiap keadaan Keiko. Sherl sangat pandai membaca wajah orang lain, terutama si gadis berkacamata itu. Entah ia belajar dari mana. 
        Hari itu adalah hari yang tak bisa ia lupakan. Sudah 4 hari Sherl tidak memberi kabar kepada Keiko. Tiap benda kecil yang selalu Keiko bawa kemana-mana itu berkelap-kelip dan berdering, wajah Keiko terlihat berbinar ketika mendapati pesan dari Sherl. Namun kali ini, rasanya sangat hambar. Keiko berusaha menahan amarahnya, berharap semoga sikap itu tidak muncul ketika ia berhadapan dengan Sherl. Seperti biasa, Keiko selalu meluangkan waktunya untuk menunggu, namun pesan itu tidak sampai juga. Dan akhirnya, Keiko pun tidak bisa menahan amarahnya sehingga sikap yang tak ia inginkan untu keluar itu keluar dengan sendirinya. Sherl datang dengan senyumannya yang hangat, namun Keiko memecahkannya. Sherl pun bertanya-tanya dan akhirnya Keiko pun sadar bahwa amarah yang berasal dari dalam dirinya lah yang mengendalikan dirinya. Namun ia terlambat. Ketika ia menyadari semua itu, Sherl pun pergi dan membawa senyuman yang pada awalnya ingin ia habiskan bersama Keiko kembali ke kamarnya. Keiko terkejut. 
         Keiko yang lugu pun memikirkan cara untuk mengendalikan dirinya. Sambil membetulkan letak kacamatanya, Keiko hanya memandang ke arah jendela kamarnya sambil bercengkrama dengan angin di balkon rumahnya. Keiko sudah mengirimkan tulisan itu kepada Sherl, namun Sherl tak membalasnya. Keiko pun hanya terdiam sambil menikmati suasana malam itu. Dingin namun ia merasa hangat. Setelah gadis itu agak terbawa suasana haru karena angin malam, tiba-tiba suara kaleng yang dilemparkan kearahnya pun membuyarkan lamunannya. Ia pun terkejut dan segera memungut kaleng itu. Ternyata kaleng itu terhubung oleh seutas benang yang memanjang sampai bawah. Dan yang ia lihat, seseorang memegang kaleng yang sama dari arah yang berlawanan dan mulai memanjat pohon yang ada di pekarangan rumah Keiko. Kemudian ia melihat orang itu memberikan aba-aba untuk memastikan benang yang ada di antara mereka itu tidak tertekuk sehingga orang itu dapat mendengar suara Keiko dengan jelas. Orang itu pun menyuruh Keiko untuk menempelkan kaleng itu ke arah telinganya.
        "Kei, maafkan aku. Masalah kemarin..."
        "Kau? Sherl?? Ah syukurlah.." 
        Keiko pun dapat tersenyum lega ketika mendapati suara Sherl dari seberang sana. Mewarnai malam biru yang awalnya terlihat menyedihkan bagi Keiko. Mereka membentangkan benang itu cukup lama. Dengan sedikit cerita yang lucu, membuat tawa Keiko kadang terdengar sampai ke kaleng yang Sherl genggam saat itu. Karena memang itulah yang Sherl harapkan dari Keiko. Gadis itu terlihat senang sekali. Dan pada malam itu juga pelangi-pelangi yang mereka harapkan akhirnya tiba di saat yang tepat. Menyenangkan.

Jumat, 01 Februari 2013

Venusku

     Sinar matahari yang berhasil menembus tirai tipis bercorak bunga lavender yang membentang di jendelanya kembali terlihat. Tapi hari ini rasanya tidak seperti biasanya, indah sekali. Hangatnya begitu terasa. Ia tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan. Ia bangkit dan merasa seperti terlahir kembali. Apalagi di hari yang istimewa ini, rasanya ia tidak ingin melewatinya.
     Hal-hal yang menyenangkan itu sudah tertata rapi di "Daftar Kebahagiaan" yang ia miliki di ransel pita nya. Mulai dari pergi ke toko buku untuk melihat terbitan komik miiko yang ke 25, kemudian membeli sepatu pita merah bersama mama, dan yang paling ia tunggu-tunggu, merayakan hari jadinya . Gadis berambut lurus itu sangat berharap teman-teman dan orang-orang yang sangat ia sayangi bisa menghiasi daftar kebahagiaan yang ia punya dengan berbagai hal yang menyenangkan bagaikan hiasan kue rainbow cake yang ia lihat di televisi beberapa waktu lalu.
     Setelah mandi, ia pun menyisir rambutnya yang terurai panjang sambil berkaca dan mendesah pelan dalam hatinya. "Aku yakin, hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan sepanjang sejarah. Dan Venus pasti akan senang ketika aku menceritakan hal-hal yang menyenangkan saat aku berkumpul bersama teman-temanku untuk meniup lilin dan membuat permohonan.". Tak lama setelah ia berbalik menjauhi meja rias, tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu disertai dengan beberapa kali ketukan yang pelan.
     "Sil, apa kamu masih tidur?" Tanya seorang anak dengan pelan.
     "Ah tidak tidak, masuk saja Liv." Ajak Sisil, dengan suara yang mendesah seperti itu, ia langsung mengenali suara Livia, sahabat baiknya yang tinggal persis di samping rumahnya.
     Livia pun tersenyum ketika mendapati Sisil dengan baju birunya dan celana jeans yang ia berikan beberapa waktu lalu. Mereka sudah berteman sejak mereka kecil, bahkan sampai mereka duduk di bangku kelas 3 sekolah tingkat pertama. Mereka selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan.
     "Apa rencanamu hari ini? Apa kau sudah tanya kepada Venus?" Tanya Livia sambil melihat-lihat isi buku dengan sampul flanel berwarna biru.
    "Venus sudah berunding denganku, coba saja kau lihat di situ. Hari ini kami punya banyak agenda. Makanya aku sengaja rapih-rapih begini saat hari libur. Padahal kan, hari ini kan hari libur. Tapi Venus berhasil menggugah semangatku Liv." Jawab Sisil sambil tertawa kecil.
    "Ah kamu nih, kamu sudah mengajak Dina?" Tanya Livia lagi sambil menatap ke arah luar jendela.
    "Sudah kok, tadi malem udah aku telpon dia. Dan setelah ku paksa, dia pun akhirnya mengiyakan permintaanku." Jawab Sisil dengan riang.
    "Oke kalo gitu, kapan nih kita jalan? Toko buku buka 15 menit lagi. Kita kan harus jalan dulu dan jaraknya kan jauh. Tunggu apalagi Sisil. Nanti kalo kesiangan nanti malah rame. Hari ini kan hari pertama miiko yang ke 25 terbit!" Seru Livia. Rasanya ia tidak sabar saat itu.
    "Iya iya aku tau. Kamu ga sabaran nih." Jawab Sisil sambil menenangkan Livia.
     Setelah percakapan singkat itu, akhirnya Sisil pun meraih Venus dari tempat tidur dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Kemudian mereka berpamitan dengan mama dan papa Sisil yang kebetulan ada di rumah. Rasanya Sisil sudah tak sabar ingin melihat komik kesayangannya terbit di toko buku hari ini. Kebahagiaan pertama mulai terasa, desahnya dalam hati. Setelah itu, akhirnya mereka memutuskan untuk naik angkot menuju toko buku. Dengan perasaan yang berdebar-debar, Sisil menikmati perjalanan singkat itu. Iya tidak peduli akan rambutnya yang berantakan karena hembusan angin yang menerpa dirinya. Namun setelah beberapa saat, rambut lurus Sisil berhenti terhuyung-huyung. Ada apa ini? cuma lampu merah ya?
      Ternyata angkot yang ia tumpangi mendadak mogok. Awalnya sih, Sisil mengganggap mogoknya ga lama, namun ketika ia melirik jam tangannya ternyata sudah setengah jam lebih mobil itu tidak bergerak sama sekali. Terpaksa Sisil dan Livia pun berjalan menuju toko buku itu. Lumayan jauh memang, tapi Sisil tidak mengeluh. Ia yakin Daftar Kebahagiaan pada point pertama akan terwujud.
      Sesampainya mereka di toko buku, ternyata benar saja. Terlihat ribuan orang mulai memadati toko buku. Saking banyaknya orang-orang yang mengunjungi toko buku itu, Sisil pun sempat terdesak dan setelah kira-kira 15 menit terombang-ambing di tengah lautan manusia yang sama-sama menggemari miiko, tokoh komik yang periang dan enerjik. Jangan heran bila tokoh komik berusia 10 tahun ini memiliki banyak penggemar di Indonesia. Setelah berjuang melawan riuhnya  penggemar yang lain, akhirnya ia berhasil mencapai rak buku yang ia tuju. Tak disangka, ternyata komik yang baru sampai di toko 20 menit yang lalu sudah habis terjual dalam waktu yang singkat. Sisil pun kecewa. Melihat sahabatnya dengan raut muka yang murung, akhirnya Livia pun mengajak Sisil pulang ke rumah.
      Sesampainya ia di rumah, ia pun langsung menuju kamar tanpa berkata apa-apa. Livia sangat memakluminya dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Sisil yang terlihat sangat sedih pun akhirnya langsung mengajak Venus bicara dan mulai menggoreskan kata-katanya di atasnya. Sambil melihat Daftar Kebahagiaan yang sudah ia rancang sebelumnya, ia pun hampir menitikkan air mata namun kemudian ia bergegas menyekanya. "Hari ini istimewa buatku Venus, aku ga boleh nangis. Liat nih, masih ada daftar yang kedua, aku mau beli sepatu merah sama mama. Waktu itu,mama janjiin sepatu itu kalo aku ulang tahun. Nah sekarang kan ulang tahunku, hehe asik nih. Aku ga sabar banget mau make sepatu itu kalo kemana-mana." Itulah penggalan kalimat yang ia tuangkan ke buku catatan kesayangannya itu. Karena ia masih memiliki janji dengan mamanya, akhirnya ia pun bangkit dan mencari mamanya. Setelah ia mencari-cari ke sekeliling rumah, namun ia tak mendapati keberadaan mamanya saat itu. Tapi, ia menemukan secrik kertas yang tertempul di pintu kulkas. "Sisil, mama sama papa ada perlu di rumah om Rafi sebentar. Nanti malam mama sama papa pulang. Kalau mau makan, sudah mama siapkan di lemari makan" begitu isi surat yang tertulis di kertas berwarna pink itu. "Ternyata Mama ga inget ya sama janjinya mau beliin aku sepatu merah" Desah Sisil dalam hati.
      Melihat tulisan itu, Sisil malah semakin yakin bahwa daftar kebahagiaan yang ia tulis dalam venusnya tak akan bisa terisi dengan baik. Komik miiko yang ia idam-idamkan tidak berhasil ia dapatkan di hari spesialnya, dan sepatu yang ia lihat di majalah waktu itu ternyata tak dapat langsung ia kenakan di hari ulang tahunnya. Padahal hari ini adalah hari yang istimewa baginya.
      "Venus, aku ingin ke rumah Dina. Mungkin ia bisa membantu memecahkan masalahku. Aku ingin mengajaknya ke taman sore ini, kau mau ikut?" Tanya Sisil.
      Tanpa menunggu jawaban Venus, ia pun langsung memasukkannya ke dalam ransel birunya. Rumah Sisil tidak begitu jauh dari rumah Dina. Sisil hanya membutuhkan 10 menit untuk bisa sampai ke rumah sahabatnya yang hobinya memotret. Langkah Sisil terhenti saat ia berada di pintu gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Ia agak ragu karena suasana rumah itu agak sepi. Namun ia tetap memberanikan dirinya untuk memasuki rumah tersebut dan perlahan ia pun mulai mengepalkan tangannya ke arah pintu.
     "Assalamualaikum" Sapa Sisil dengan hati-hati. Sisil kira sahutan yang ia lontarkan tadi tidak membuahkan hasil, namun ternyata ada suara yang menjawab salam Sisil dari dalam.
     "Waalaikumussalam" Jawab Dina sambil membuka pintu dan akhirnya terbelalak ketika ia mendapati Sisil yang tengah berada di hadapannya.
    "Kenapa din? Ga suka ya kalo aku ke sini?" Tanya Sisil
    "Emm ngga kok, yaudah yuk masuk." Ajak Dina.
     Sambil mengajak Sisil masuk, Raut muka Dina terlihat sangat gelisah. Setelah membiarkan Sisil menunggu di ruang tamu, akhirnya ia pun langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengirim pesan singkat ke Livia.
     "Liv, tunggu 15 menit lagi. Aku akan ajak dia ke taman"
     Sisil hanya termenung ketika Dina membawakannya segelas air putih dingin. Dina pun mencari cara untuk membuat Sisil tidak terpaku dengan lamunannya.
    "Sil, kamu kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Dina dengan hati-hati
    "Hmm tidak Din, sepetinya hari ini aku dan venusku sedang tidak baik. Lihatlah cuaca dalam Venusku, berawan dan sebentar lagi akan turun hujan disana." Jawab Sisil sambil mengeluarkan bindernya dan memperlihatkannya kepada Dina.
    "Mungkin Venus punya rencana lain sil, kenapa kau tidak bertanya kepada Venus?" Tanya Dina dengan ringan.
    "Ah iya, kau benar juga. Venus, apakah kau punya rencana lain?" Tanya Sisil sambil menatap Venus.
    "Emm mungkin, dia ingin ke taman sore ini. Aku juga ingin mencari pemandangan bagus untuk masuk ke dalam folderku, sepertinya hari ini adalah hari yang indah sil, ya kan Venus?" Seru Dina sambil mengambil kameranya dari lemari kaca dekat televisi.
    "Nampaknya sekarang kau berhasil membaca pikiran Venus, din." Seru Sisil sambil tertawa kecil.
    "Yasudah, tunggu apalagi. Ayo kita ke taman. Akan aku traktir kamu dan Venus es pisang ijo." Goda Dina.
    "Ah yang bener nih, yaudah kebetulan aku juga laper nih din. Sekalian batagor ya." Sindir Sisil.
     Akhirnya mereka berjalan menuju taman di dekat rumah mereka. Tak sampai 10 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah area luas dengan banyak pepohonan di sekitar mereka. 2 air mancur yang berada di bagian depan seakan menyambut kedatangan mereka saat itu. Sambil memegang kameranya akhirnya Dina pun mulai memfokuskan kameranya ke arah Sisil. Namun sesaat sebelum Dina menekan tombol potret, hujan pun perlahan mulai mengguyur taman itu. Semua orang yang ada taman itu akhirnya berlarian mencari tempat untuk berteduh. Dina pun dengan cepat mengajak Sisil untuk berteduh.
     Setelah mereka berteduh di bawah halte, Dina pun dengan cepat mengeluarkan ponsel dalam sakunya dan membalas pesan singkat dari Livia.
    "Liv, di rumah ku saja!"
     Sisil yang terlihat sangat kecewa itu akhirnya hanya menatap hujan. Sambil berusaha untuk mengurangi rasa kecewanya, ia pun mengeluarkan Venus dan perlahan mulai menggoreskan tinta di atasnya.
    "Ven, benar kan apa kata ku tadi. Sepertinya rencana kita gagal total nih. Ternyata benar kan apa kata ku tadi saat di rumah Dina, hari ini hujan. tapi kau tidak kebasahan kan Venus? Mungkin hari ini adalah hari terburukku Venus. Walaupun seminggu yang lalu itu adalah hari yang buruk, tapi buruknya tidak parah seperti ini Ven. Buktinya waktu jam tangan ku hilang, mama ku memberikan ku martabak manis kesukaanku. Tapi bagaimana dengan sekarang? Lebih buruk daripada saat jam ku hilang." Begitulah isi kalimat yang ia tulis dalam Venusnya. Ketika hujan perlahan sudah mulai mereda, akhirnya Dina mengajak Sisil untuk kembali ke rumah Dina.
    "Sil, pulang ke rumahku yuk. Akan kubuatkan kau coklat panas." Ajak Dina sambil merangkul Sisil.
    "Ya baiklah. " Sahut Sisil sambil beranjak dari tempat duduknya.
    Perlahan ketika mereka berjalan menuju rumah Dina, cahaya matahari yang awalnya hanya bersembunyi di balik awan sekarang sudah terlihat tidak malu-malu lagi untuk menampakkan sinarnya. Sisil yang hanya menundukkan kepalanya sambil berjalan tidak percaya ketika melihat bayangannya yang tergambar di aspal.            
    "Venus,apakah ini pertanda baik?" gumam Sisil pelan.
    "Ada apa sil?" Tanya Dina sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan beberapa tombol.
    "Ah tak apa. Lihat, bayanganku muncul Din, apakah ada sesuatu yang baik?" Tanya Dina.
    "Emm mungkin saja Sil." Jawab Dina sambil tersenyum.
     Dina kembali menatap ponsel yang daritadi berada dalam genggamannya. Sambil menerima pesan singkat dari Livia, ia hanya membalas "Aku sedang berjalan menuju rumah ku bersama Sisil. Kau persiapkan saja ya Liv."
    Sisil yang daritadi hanya tersenyum melihat Dina ketika mengetik tombol ponselnya pun mulai merasa heran. Dina itu seperti cuaca di hari ini, tadi pagi cerah eh sekarang mendung, nanti cerah lagi. Mungkin jika Venus sedang ada dalam genggamannya, Venus pun juga mengiyakan dugaan Sisil tentang Dina yang mirip dengan cuaca hari ini. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai depan pintu gerbang rumah Dina.
     "Din, ayolah cepat. Aku tak tahan ingin merasakan coklat panasmu. Walaupun sekarang coklat panasmu tidak dapat menghangatkan tubuhku karena saat ini sudah cerah, tapi aku yakin coklat panasmua akan memperbaiki moodku. Venus juga sepertinya berpikir seperti itu." Ajak Sisil.
     "Kau buka saja pintunya, aku ingin mencari kucingku sebentar. Aku takut saat aku tinggalkan lolo, dia kehujanan di luar." Perintah Dina.
     "Baiklah, aku buka ya. Setelah itu kau menyusulku." Sahut Sisil sambil menoleh ke arah Dina.
     Tak lama setelah Sisil mengayunkan gagang pintu, sesuatu pun membuat Sisil tercengang. Bunyi tiupan terompet dan kertas kecil-kecil berwarna warni itu pun berhasil membuat Sisil terkejut. Setelah lampu dinyalakan, ia mendapati Livia bersama mama dan papanya. Rainbow Cake yang diatasnya ada lilin angka 1 dan 5 juga berhasil membuat senyuman Sisil melengkung di wajahnya yang imut itu. Sisil yakin Venus juga demikian. Sambil menghampiri mama dan papanya, Sisil pun mengucapkan terima kasih kepada mereka.
     "Ku kira papa dan mama ga inget lho. Eh ternyata sudah direncanakan ya." Seru Sisil.
     "Hehe iya sil, itu kamu tau. Nah ini buat kamu." Ucap mama sambil memberikan kado berbentuk kotak dan bercorak polkadot.
      Dengan rasa penasaran, akhirnya Sisil pun membuka bungkus kado berwarna merah itu. Kotaknya cukup besar. Dan saat ia berhasil merobeknya, akhirnya ia pun mendapati sepatu merah yang ia idam-idamkan. Sisil pun terlihat sangat senang saat itu.
     "Nah sil, ini dari aku. Selamat ulang tahun ya. Buka dong!" Sahut Livia
      Sisil tidak dapat menebak apa isi dari bungkusan kado bercorak boneka yang diberikan oleh Livia. Akhirnya, ia pun langsung membukanya dengan perlahan, dan isinya adalah komik Miiko ke 25 yang baru saja di terbitkan hari ini.
     "Eh liv, kapan kamu mendapatkan komik ini? Tadi kan sudah habis." Tanya Sisil
     "Hehe tadi waktu kamu pulang ke rumah, aku langsung pergi ke toko buku lain. Dan ternyata ada lho." Jawab Livia.
      Setelah Sisil meniup lilin dan membuat permohonan, akhirnya ia menikmati kue ulang tahunnya yang memiliki hiasan Winnie The Pooh. "Ternyata, daftar kebahagiaan kita terwujud dengan baik Venus. Aku senang sekali. Ku kira hari ini adalah hari terburukku, namun kebahagiaan akhirnya datang indah pada waktunya. Terima kasih Allah." gumam Sisil dalam hati.
     

      

Rabu, 30 Januari 2013

        Sore ini sangat cerah. Rasanya sangat disayangkan apabila dilewatkan, apalagi untuk bersepeda. Bagi gadis kecil berusia 6 tahun ini, bersepeda dapat mengajarkan segala hal kepadanya. Dengan jalan pikirannya yang masih polos, ia menganggap bahwa sepeda adalah sahabat yang baik. Buktinya, Loli--begitu panggilan Mia untuk sepedanya, selalu setia menemani Mia kemana saja, bahkan ketika Mia disuruh ibunya membeli micin di warung, Loli pun selalu bersedia menemani Mia. Dengan keranjang yang memiliki pita biru di depannya, Mia selalu merasa sangat bangga dengan sepeda yang ia miliki.
         Loli juga dapat membantu Mia berbuat baik kepada semua temannya. Dengan jok belakang yang Loli miliki, Mia dapat membawa temannya ke semua tempat yang ia kehendaki. Bahkan pernah suatu hari saat hujan deras turun sesaat setelah bel sekolah berdentang, Mia melihat Winda sedang menungu di koridor sekolah. Sepertinya Winda tidak membawa payung, begitu pikiran Mia saat melihat teman sekelasnya sambil menatap hujan yang turun tidak jauh dari tempat ia berdiri.
         "Winda, kamu ga pulang? Ga bawa payung ya?" Tanya Mia sambil melihat Winda
         "Iya nih Mia, aku ga bawa payung." Ujar Winda sambil melirik sepatunya yang basah karena cipratan air hujan.
         "Ikut aku aja yuk, kita naik Loli" Ajak Mia
         "Memangnya boleh?" Tanya Winda
         "Boleh lah. Loli ga keberatan kok walaupun harus membawa kita berdua." Jawab Mia dengan singkat.
         Akhirnya mereka berdua menuju ke tempat parkir di samping gedung sekolah. Mia pun mengeluarkan jas hujan powerpuff girls dan mengenakannya bersama Winda, akhirnya Mia pun pulang bersama Winda. Ditemani dengan turunnya hujan yang berentetan saat itu, namun kedua anak itu terlihat kegirangan. Bahkan saat itu, mereka berdua berteriak sepanjang jalan. Menyenangkan sekali. Itulah yang Mia sukai, ia senang membantu temannya.
          Setelah sekian lama berkeliling di taman dekat rumah, Mia melihat anak-anak sedang berkumpul di taman. Motor itu bukannya untuk orang besar saja ya-- itulah pikiran yang berhasil tergambarkan dalam benak Mia ketika ia melihat anak-anak itu bermain motor. Dengan bangganya mereka membunyikan gas motor dengan keras sehingga menimbulkan suara deruman yang keras, bahkan suara lonceng milik Loli sekalipun. Sangat aneh sekali didengar. Lebih menyenangkan ketika kita bermain sepeda,begitu lanjutan kalimat yang diucapkan Mia saat itu.
       

Selasa, 29 Januari 2013

Ketika apa yang kau sukai menjadi bumerang untuk orang lain

     Hari ini, Filia hanya duduk termenung di bangku belakang. Ya, karena hanya di tempat itu saja ia bisa men"charge" si Camble kesayangannya. Sambil berpikir sesekali, ia pun mulai mengetik. Saat itu pikirannya penuh dengan tugas dan tugas. Belum lagi, ia memang disibukkan dengan kegiatan organisasi di sekolahnya. Walaupun dia selalu sibuk, tapi gadis yang senang memakai jam tangan berwarna biru itu tidak memiliki teman akrab sampai sekarang.
     Kejadian itu dimulai ketika saat ia tengah mengikuti rapat. Ya, Filia yang terkenal cerewet dan punya banyak teman selalu mengeluarkan celotehannya di saat ia berkumpul dengan teman-temannya. Hari itu, sangat berkesan sekali. Karena berentetan kejadian yang menyenangkan berhasil terpenuhi di "Daftar Kebahagiaan" yang ia miliki di ransel indahnya. Hari itu Bayu berhasil membuat lengkungan senyum di wajah Filia terlihat lagi, padahal di malam sebelumnya Bayu membuat Filia jengkel. Ya, itu adalah kebiasaan yang normal, katanya. Setelah itu, ia juga mendapat nilai bagus saat ulangan sejarah. Banyak yang bilang, sejarah itu membosankan. Tapi menurut gadis yang imut ini, sejarah itu sangat menyenangkan. Saat itu pelajaran sejarah akhirnya berhasil menerbitkan semangat dan minat Filia sampai mencuat dan merekah ke atas hingga akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang memuaskan. Ya, tanda check list untuk kebahagiaan kedua akhirnya berhasil terpenuhi.
       Sebetulnya Filia memiliki teman, banyak teman. Teman baik,tapi tidak terlalu dekat. Pernah sesekali Filia menganggap seorang teman yang sudah dianggap soulmate nya menjadi teman dekatnya. Namun, tak disangka. Dia menjauh dan akhirnya mulai menjaga jarak. Sampai saat ini, Filia juga tidak mengerti jalan pikirannya. Bukan hanya satu orang, tapi lebih. Semua orang yang ia temui juga sama. Mereka mengganggap Filia hanyalah teman biasa, padahal Filia adalah anak yang mudah bergaul. Namun setelah melihat kejadian itu, Filia mendapatkan pengertian baru tentang berteman. Ternyata syarat untuk memiliki teman banyak tidak harus pandai bergaul. Kalo disuruh menunjukkan buktinya, Filia langsung mengacung dan mengakui dirinya memang yang menciptakan teori seperti itu.
      Namun Filia nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, normal saja. Tak usah mengharapakan orang lain datang padanya. Kali ini Filia hanya bicara seperlunya. Dan Filia sekarang mengerti, ternyata persahabatan itu tidak selamanya indah seperti yang ada di tv. Hemmm semua seperti dongeng. Filia lebih suka menulis ketika amarahnya sedang meletup-letup daripada menceritakannya kepada orang lain. ORang lain itu, hanya bayangan saja.
       Setelah mengetik beberapa paragraf di blognya, akhirnya ia pun kembali meneruskan tugasnya. Dan sekali lagi ia menegaskan, "biarkan mereka menjadi mereka, datanglah ketika mereka membutuhkan, dan bicara saja seperlunya dengan mereka, mererka hanya membutuhkan sedikit peranku, aku cukup nyaman dengan dunia ku sendiri dia dengan keadaan seperti ini.Tak perlu berharap seseorang untuk mengerti keadaanku karena mereka hanya menganggapku sebagai bayangan yang ada di belakang mereka. Dan aku pun juga tak berharap banyak dari mereka. Kadang mereka baik, kadang mereka jahat. Sesuatu yang kuanggap menyenangkan tapi tiba-tiba menjadi bumerang untuk mereka. Mereka tidak suka. Lalu ada apa? Jika mereka berada dalam tubuhku ini, apa mereka dapat merasakan seandainya sesuatu yang indah menurut mereka tiba-tiba tidak disukai oleh orang lain?  Cukup diam, senyum, dan tenang. Dan sekali lagi, aku nyaman dengan diriku sendiri" 

Jumat, 25 Januari 2013

Diam

  Saat itu, seperti biasanya, Prita sedang asyik dengan dunianya. Menggganggap semua baik-baik saja adalah  hal yang paling ia suka. Ya, dia tidak pernah mengganggap semua orang benci kepadanya. Bahkan terlebih lagi, kepada teman-temannya, gadis berambut pendek itu pun mengganggap semuanya selalu baik-baik saja.
   Ketika itu Prita hendak mengikuti rapat kepengurusan organisasi di sekolah. dia memang cukup sibuk dalam urusan itu. Setiap harinya, ia selalu senang ketika mengikuti rapat itu, walaupun kebanyakan orang tidak bisa menikmati keadaan dan  hanya berpangku tangan ketika dipaksa untuk mendengarkan sang ketua rapat memimpin jalannya rapat. Seperti biasa, ia selalu terlihat gembira dengan celotehannya yang nyablak dan menyenangkan bersama teman-temannya. Namun saat itu, kelihatannya beda dari yang biasanya. Seorang gadis berambut keriting itu datang dan menghampiri Prita yang tengah bersenda gurau di sela-sela rapat.
    "Prit, lo tuh terlalu bawel. Terlalu berisik. Terlalu over. Gausah caper gitu bisa kan?" Bentak Lisa dengan tegas.
    Prita tidak menjawab, Prita hanya termenung sambil mencoba untuk mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan Lisa ke arahnya beberapa saat yang lalu. Raut mukanya yang datar menunjukkan bahwa dirinya memang terpukul, namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu. Dia mencoba untuk bersabar, dan tetap diam walaupun banyak teman-teman yang menanyakan keadaannya yang berubah drastis kala itu. Kala itu, rasanya memang tidak mengenakkan.
     Sehari setelah kejadian itu, Prita pun mulai berubah. Ia pun mulai memilih untuk tetap berdiam diri dan megabaikan semua dunia luar yang menyentuh tubuhnya. Dengan berat hati, ia pun akhirnya memenuhi panggilan rapat sesaat setelah ia termenung di taman sekolah. Ketika itu, ia melihat Lisa dan teman-temannya  bersenda gurau ketika rapat. Rasanya itu sangat tidak adil. Belum lagi, Nia, teman baik Lisa bersenda gurau dengan Bayu. Sekali lagi, Prita menegaskan dirinya sendiri di dalam hatinya. Mungkin sampai orang-orang yang ada di sekitarnya menyadari keberadaan dirinya, ia hanya bisa termenung dan akhirnya kebahagiaannya pun mulai tersapu oleh setiap hembusan angin yang menerpa dirinya.