Jumat, 01 Februari 2013

Venusku

     Sinar matahari yang berhasil menembus tirai tipis bercorak bunga lavender yang membentang di jendelanya kembali terlihat. Tapi hari ini rasanya tidak seperti biasanya, indah sekali. Hangatnya begitu terasa. Ia tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan. Ia bangkit dan merasa seperti terlahir kembali. Apalagi di hari yang istimewa ini, rasanya ia tidak ingin melewatinya.
     Hal-hal yang menyenangkan itu sudah tertata rapi di "Daftar Kebahagiaan" yang ia miliki di ransel pita nya. Mulai dari pergi ke toko buku untuk melihat terbitan komik miiko yang ke 25, kemudian membeli sepatu pita merah bersama mama, dan yang paling ia tunggu-tunggu, merayakan hari jadinya . Gadis berambut lurus itu sangat berharap teman-teman dan orang-orang yang sangat ia sayangi bisa menghiasi daftar kebahagiaan yang ia punya dengan berbagai hal yang menyenangkan bagaikan hiasan kue rainbow cake yang ia lihat di televisi beberapa waktu lalu.
     Setelah mandi, ia pun menyisir rambutnya yang terurai panjang sambil berkaca dan mendesah pelan dalam hatinya. "Aku yakin, hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan sepanjang sejarah. Dan Venus pasti akan senang ketika aku menceritakan hal-hal yang menyenangkan saat aku berkumpul bersama teman-temanku untuk meniup lilin dan membuat permohonan.". Tak lama setelah ia berbalik menjauhi meja rias, tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu disertai dengan beberapa kali ketukan yang pelan.
     "Sil, apa kamu masih tidur?" Tanya seorang anak dengan pelan.
     "Ah tidak tidak, masuk saja Liv." Ajak Sisil, dengan suara yang mendesah seperti itu, ia langsung mengenali suara Livia, sahabat baiknya yang tinggal persis di samping rumahnya.
     Livia pun tersenyum ketika mendapati Sisil dengan baju birunya dan celana jeans yang ia berikan beberapa waktu lalu. Mereka sudah berteman sejak mereka kecil, bahkan sampai mereka duduk di bangku kelas 3 sekolah tingkat pertama. Mereka selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan.
     "Apa rencanamu hari ini? Apa kau sudah tanya kepada Venus?" Tanya Livia sambil melihat-lihat isi buku dengan sampul flanel berwarna biru.
    "Venus sudah berunding denganku, coba saja kau lihat di situ. Hari ini kami punya banyak agenda. Makanya aku sengaja rapih-rapih begini saat hari libur. Padahal kan, hari ini kan hari libur. Tapi Venus berhasil menggugah semangatku Liv." Jawab Sisil sambil tertawa kecil.
    "Ah kamu nih, kamu sudah mengajak Dina?" Tanya Livia lagi sambil menatap ke arah luar jendela.
    "Sudah kok, tadi malem udah aku telpon dia. Dan setelah ku paksa, dia pun akhirnya mengiyakan permintaanku." Jawab Sisil dengan riang.
    "Oke kalo gitu, kapan nih kita jalan? Toko buku buka 15 menit lagi. Kita kan harus jalan dulu dan jaraknya kan jauh. Tunggu apalagi Sisil. Nanti kalo kesiangan nanti malah rame. Hari ini kan hari pertama miiko yang ke 25 terbit!" Seru Livia. Rasanya ia tidak sabar saat itu.
    "Iya iya aku tau. Kamu ga sabaran nih." Jawab Sisil sambil menenangkan Livia.
     Setelah percakapan singkat itu, akhirnya Sisil pun meraih Venus dari tempat tidur dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Kemudian mereka berpamitan dengan mama dan papa Sisil yang kebetulan ada di rumah. Rasanya Sisil sudah tak sabar ingin melihat komik kesayangannya terbit di toko buku hari ini. Kebahagiaan pertama mulai terasa, desahnya dalam hati. Setelah itu, akhirnya mereka memutuskan untuk naik angkot menuju toko buku. Dengan perasaan yang berdebar-debar, Sisil menikmati perjalanan singkat itu. Iya tidak peduli akan rambutnya yang berantakan karena hembusan angin yang menerpa dirinya. Namun setelah beberapa saat, rambut lurus Sisil berhenti terhuyung-huyung. Ada apa ini? cuma lampu merah ya?
      Ternyata angkot yang ia tumpangi mendadak mogok. Awalnya sih, Sisil mengganggap mogoknya ga lama, namun ketika ia melirik jam tangannya ternyata sudah setengah jam lebih mobil itu tidak bergerak sama sekali. Terpaksa Sisil dan Livia pun berjalan menuju toko buku itu. Lumayan jauh memang, tapi Sisil tidak mengeluh. Ia yakin Daftar Kebahagiaan pada point pertama akan terwujud.
      Sesampainya mereka di toko buku, ternyata benar saja. Terlihat ribuan orang mulai memadati toko buku. Saking banyaknya orang-orang yang mengunjungi toko buku itu, Sisil pun sempat terdesak dan setelah kira-kira 15 menit terombang-ambing di tengah lautan manusia yang sama-sama menggemari miiko, tokoh komik yang periang dan enerjik. Jangan heran bila tokoh komik berusia 10 tahun ini memiliki banyak penggemar di Indonesia. Setelah berjuang melawan riuhnya  penggemar yang lain, akhirnya ia berhasil mencapai rak buku yang ia tuju. Tak disangka, ternyata komik yang baru sampai di toko 20 menit yang lalu sudah habis terjual dalam waktu yang singkat. Sisil pun kecewa. Melihat sahabatnya dengan raut muka yang murung, akhirnya Livia pun mengajak Sisil pulang ke rumah.
      Sesampainya ia di rumah, ia pun langsung menuju kamar tanpa berkata apa-apa. Livia sangat memakluminya dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Sisil yang terlihat sangat sedih pun akhirnya langsung mengajak Venus bicara dan mulai menggoreskan kata-katanya di atasnya. Sambil melihat Daftar Kebahagiaan yang sudah ia rancang sebelumnya, ia pun hampir menitikkan air mata namun kemudian ia bergegas menyekanya. "Hari ini istimewa buatku Venus, aku ga boleh nangis. Liat nih, masih ada daftar yang kedua, aku mau beli sepatu merah sama mama. Waktu itu,mama janjiin sepatu itu kalo aku ulang tahun. Nah sekarang kan ulang tahunku, hehe asik nih. Aku ga sabar banget mau make sepatu itu kalo kemana-mana." Itulah penggalan kalimat yang ia tuangkan ke buku catatan kesayangannya itu. Karena ia masih memiliki janji dengan mamanya, akhirnya ia pun bangkit dan mencari mamanya. Setelah ia mencari-cari ke sekeliling rumah, namun ia tak mendapati keberadaan mamanya saat itu. Tapi, ia menemukan secrik kertas yang tertempul di pintu kulkas. "Sisil, mama sama papa ada perlu di rumah om Rafi sebentar. Nanti malam mama sama papa pulang. Kalau mau makan, sudah mama siapkan di lemari makan" begitu isi surat yang tertulis di kertas berwarna pink itu. "Ternyata Mama ga inget ya sama janjinya mau beliin aku sepatu merah" Desah Sisil dalam hati.
      Melihat tulisan itu, Sisil malah semakin yakin bahwa daftar kebahagiaan yang ia tulis dalam venusnya tak akan bisa terisi dengan baik. Komik miiko yang ia idam-idamkan tidak berhasil ia dapatkan di hari spesialnya, dan sepatu yang ia lihat di majalah waktu itu ternyata tak dapat langsung ia kenakan di hari ulang tahunnya. Padahal hari ini adalah hari yang istimewa baginya.
      "Venus, aku ingin ke rumah Dina. Mungkin ia bisa membantu memecahkan masalahku. Aku ingin mengajaknya ke taman sore ini, kau mau ikut?" Tanya Sisil.
      Tanpa menunggu jawaban Venus, ia pun langsung memasukkannya ke dalam ransel birunya. Rumah Sisil tidak begitu jauh dari rumah Dina. Sisil hanya membutuhkan 10 menit untuk bisa sampai ke rumah sahabatnya yang hobinya memotret. Langkah Sisil terhenti saat ia berada di pintu gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Ia agak ragu karena suasana rumah itu agak sepi. Namun ia tetap memberanikan dirinya untuk memasuki rumah tersebut dan perlahan ia pun mulai mengepalkan tangannya ke arah pintu.
     "Assalamualaikum" Sapa Sisil dengan hati-hati. Sisil kira sahutan yang ia lontarkan tadi tidak membuahkan hasil, namun ternyata ada suara yang menjawab salam Sisil dari dalam.
     "Waalaikumussalam" Jawab Dina sambil membuka pintu dan akhirnya terbelalak ketika ia mendapati Sisil yang tengah berada di hadapannya.
    "Kenapa din? Ga suka ya kalo aku ke sini?" Tanya Sisil
    "Emm ngga kok, yaudah yuk masuk." Ajak Dina.
     Sambil mengajak Sisil masuk, Raut muka Dina terlihat sangat gelisah. Setelah membiarkan Sisil menunggu di ruang tamu, akhirnya ia pun langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengirim pesan singkat ke Livia.
     "Liv, tunggu 15 menit lagi. Aku akan ajak dia ke taman"
     Sisil hanya termenung ketika Dina membawakannya segelas air putih dingin. Dina pun mencari cara untuk membuat Sisil tidak terpaku dengan lamunannya.
    "Sil, kamu kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Dina dengan hati-hati
    "Hmm tidak Din, sepetinya hari ini aku dan venusku sedang tidak baik. Lihatlah cuaca dalam Venusku, berawan dan sebentar lagi akan turun hujan disana." Jawab Sisil sambil mengeluarkan bindernya dan memperlihatkannya kepada Dina.
    "Mungkin Venus punya rencana lain sil, kenapa kau tidak bertanya kepada Venus?" Tanya Dina dengan ringan.
    "Ah iya, kau benar juga. Venus, apakah kau punya rencana lain?" Tanya Sisil sambil menatap Venus.
    "Emm mungkin, dia ingin ke taman sore ini. Aku juga ingin mencari pemandangan bagus untuk masuk ke dalam folderku, sepertinya hari ini adalah hari yang indah sil, ya kan Venus?" Seru Dina sambil mengambil kameranya dari lemari kaca dekat televisi.
    "Nampaknya sekarang kau berhasil membaca pikiran Venus, din." Seru Sisil sambil tertawa kecil.
    "Yasudah, tunggu apalagi. Ayo kita ke taman. Akan aku traktir kamu dan Venus es pisang ijo." Goda Dina.
    "Ah yang bener nih, yaudah kebetulan aku juga laper nih din. Sekalian batagor ya." Sindir Sisil.
     Akhirnya mereka berjalan menuju taman di dekat rumah mereka. Tak sampai 10 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah area luas dengan banyak pepohonan di sekitar mereka. 2 air mancur yang berada di bagian depan seakan menyambut kedatangan mereka saat itu. Sambil memegang kameranya akhirnya Dina pun mulai memfokuskan kameranya ke arah Sisil. Namun sesaat sebelum Dina menekan tombol potret, hujan pun perlahan mulai mengguyur taman itu. Semua orang yang ada taman itu akhirnya berlarian mencari tempat untuk berteduh. Dina pun dengan cepat mengajak Sisil untuk berteduh.
     Setelah mereka berteduh di bawah halte, Dina pun dengan cepat mengeluarkan ponsel dalam sakunya dan membalas pesan singkat dari Livia.
    "Liv, di rumah ku saja!"
     Sisil yang terlihat sangat kecewa itu akhirnya hanya menatap hujan. Sambil berusaha untuk mengurangi rasa kecewanya, ia pun mengeluarkan Venus dan perlahan mulai menggoreskan tinta di atasnya.
    "Ven, benar kan apa kata ku tadi. Sepertinya rencana kita gagal total nih. Ternyata benar kan apa kata ku tadi saat di rumah Dina, hari ini hujan. tapi kau tidak kebasahan kan Venus? Mungkin hari ini adalah hari terburukku Venus. Walaupun seminggu yang lalu itu adalah hari yang buruk, tapi buruknya tidak parah seperti ini Ven. Buktinya waktu jam tangan ku hilang, mama ku memberikan ku martabak manis kesukaanku. Tapi bagaimana dengan sekarang? Lebih buruk daripada saat jam ku hilang." Begitulah isi kalimat yang ia tulis dalam Venusnya. Ketika hujan perlahan sudah mulai mereda, akhirnya Dina mengajak Sisil untuk kembali ke rumah Dina.
    "Sil, pulang ke rumahku yuk. Akan kubuatkan kau coklat panas." Ajak Dina sambil merangkul Sisil.
    "Ya baiklah. " Sahut Sisil sambil beranjak dari tempat duduknya.
    Perlahan ketika mereka berjalan menuju rumah Dina, cahaya matahari yang awalnya hanya bersembunyi di balik awan sekarang sudah terlihat tidak malu-malu lagi untuk menampakkan sinarnya. Sisil yang hanya menundukkan kepalanya sambil berjalan tidak percaya ketika melihat bayangannya yang tergambar di aspal.            
    "Venus,apakah ini pertanda baik?" gumam Sisil pelan.
    "Ada apa sil?" Tanya Dina sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan beberapa tombol.
    "Ah tak apa. Lihat, bayanganku muncul Din, apakah ada sesuatu yang baik?" Tanya Dina.
    "Emm mungkin saja Sil." Jawab Dina sambil tersenyum.
     Dina kembali menatap ponsel yang daritadi berada dalam genggamannya. Sambil menerima pesan singkat dari Livia, ia hanya membalas "Aku sedang berjalan menuju rumah ku bersama Sisil. Kau persiapkan saja ya Liv."
    Sisil yang daritadi hanya tersenyum melihat Dina ketika mengetik tombol ponselnya pun mulai merasa heran. Dina itu seperti cuaca di hari ini, tadi pagi cerah eh sekarang mendung, nanti cerah lagi. Mungkin jika Venus sedang ada dalam genggamannya, Venus pun juga mengiyakan dugaan Sisil tentang Dina yang mirip dengan cuaca hari ini. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai depan pintu gerbang rumah Dina.
     "Din, ayolah cepat. Aku tak tahan ingin merasakan coklat panasmu. Walaupun sekarang coklat panasmu tidak dapat menghangatkan tubuhku karena saat ini sudah cerah, tapi aku yakin coklat panasmua akan memperbaiki moodku. Venus juga sepertinya berpikir seperti itu." Ajak Sisil.
     "Kau buka saja pintunya, aku ingin mencari kucingku sebentar. Aku takut saat aku tinggalkan lolo, dia kehujanan di luar." Perintah Dina.
     "Baiklah, aku buka ya. Setelah itu kau menyusulku." Sahut Sisil sambil menoleh ke arah Dina.
     Tak lama setelah Sisil mengayunkan gagang pintu, sesuatu pun membuat Sisil tercengang. Bunyi tiupan terompet dan kertas kecil-kecil berwarna warni itu pun berhasil membuat Sisil terkejut. Setelah lampu dinyalakan, ia mendapati Livia bersama mama dan papanya. Rainbow Cake yang diatasnya ada lilin angka 1 dan 5 juga berhasil membuat senyuman Sisil melengkung di wajahnya yang imut itu. Sisil yakin Venus juga demikian. Sambil menghampiri mama dan papanya, Sisil pun mengucapkan terima kasih kepada mereka.
     "Ku kira papa dan mama ga inget lho. Eh ternyata sudah direncanakan ya." Seru Sisil.
     "Hehe iya sil, itu kamu tau. Nah ini buat kamu." Ucap mama sambil memberikan kado berbentuk kotak dan bercorak polkadot.
      Dengan rasa penasaran, akhirnya Sisil pun membuka bungkus kado berwarna merah itu. Kotaknya cukup besar. Dan saat ia berhasil merobeknya, akhirnya ia pun mendapati sepatu merah yang ia idam-idamkan. Sisil pun terlihat sangat senang saat itu.
     "Nah sil, ini dari aku. Selamat ulang tahun ya. Buka dong!" Sahut Livia
      Sisil tidak dapat menebak apa isi dari bungkusan kado bercorak boneka yang diberikan oleh Livia. Akhirnya, ia pun langsung membukanya dengan perlahan, dan isinya adalah komik Miiko ke 25 yang baru saja di terbitkan hari ini.
     "Eh liv, kapan kamu mendapatkan komik ini? Tadi kan sudah habis." Tanya Sisil
     "Hehe tadi waktu kamu pulang ke rumah, aku langsung pergi ke toko buku lain. Dan ternyata ada lho." Jawab Livia.
      Setelah Sisil meniup lilin dan membuat permohonan, akhirnya ia menikmati kue ulang tahunnya yang memiliki hiasan Winnie The Pooh. "Ternyata, daftar kebahagiaan kita terwujud dengan baik Venus. Aku senang sekali. Ku kira hari ini adalah hari terburukku, namun kebahagiaan akhirnya datang indah pada waktunya. Terima kasih Allah." gumam Sisil dalam hati.
     

      

Tidak ada komentar :

Posting Komentar