Saat itu, seperti biasanya, Prita sedang asyik dengan dunianya. Menggganggap semua baik-baik saja adalah hal yang paling ia suka. Ya, dia tidak pernah mengganggap semua orang benci kepadanya. Bahkan terlebih lagi, kepada teman-temannya, gadis berambut pendek itu pun mengganggap semuanya selalu baik-baik saja.
Ketika itu Prita hendak mengikuti rapat kepengurusan organisasi di sekolah. dia memang cukup sibuk dalam urusan itu. Setiap harinya, ia selalu senang ketika mengikuti rapat itu, walaupun kebanyakan orang tidak bisa menikmati keadaan dan hanya berpangku tangan ketika dipaksa untuk mendengarkan sang ketua rapat memimpin jalannya rapat. Seperti biasa, ia selalu terlihat gembira dengan celotehannya yang nyablak dan menyenangkan bersama teman-temannya. Namun saat itu, kelihatannya beda dari yang biasanya. Seorang gadis berambut keriting itu datang dan menghampiri Prita yang tengah bersenda gurau di sela-sela rapat.
"Prit, lo tuh terlalu bawel. Terlalu berisik. Terlalu over. Gausah caper gitu bisa kan?" Bentak Lisa dengan tegas.
Prita tidak menjawab, Prita hanya termenung sambil mencoba untuk mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan Lisa ke arahnya beberapa saat yang lalu. Raut mukanya yang datar menunjukkan bahwa dirinya memang terpukul, namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu. Dia mencoba untuk bersabar, dan tetap diam walaupun banyak teman-teman yang menanyakan keadaannya yang berubah drastis kala itu. Kala itu, rasanya memang tidak mengenakkan.
Sehari setelah kejadian itu, Prita pun mulai berubah. Ia pun mulai memilih untuk tetap berdiam diri dan megabaikan semua dunia luar yang menyentuh tubuhnya. Dengan berat hati, ia pun akhirnya memenuhi panggilan rapat sesaat setelah ia termenung di taman sekolah. Ketika itu, ia melihat Lisa dan teman-temannya bersenda gurau ketika rapat. Rasanya itu sangat tidak adil. Belum lagi, Nia, teman baik Lisa bersenda gurau dengan Bayu. Sekali lagi, Prita menegaskan dirinya sendiri di dalam hatinya. Mungkin sampai orang-orang yang ada di sekitarnya menyadari keberadaan dirinya, ia hanya bisa termenung dan akhirnya kebahagiaannya pun mulai tersapu oleh setiap hembusan angin yang menerpa dirinya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar