Kamis, 20 Juni 2013

My Story-

          Apakah kau pernah merasa dikucilkan? Atau diabaikan oleh mereka? Aku punya kisah seseorang dimana hanya kesendirian yang menjadi teman bermainnya sehari-hari. Aku tau, sesungguhnya seseorang itu tidak sendiri. Ada banyak sekali warna-warna indah disekitarnya. Dan pasti kau bisa memahami apa yang dia rasa saat itu.
      Berawal pada suatu hari yang sebelumnya sudah diprediksi oleh Puti--gadis berkacamata yang usianya masih 16 tahun menjadi hari yang sangat menyenangkan. Dimana semua orang akan bersenang-senang dengannya. Gadis itu tidak memerdulikan semua hal yang mengganggunya. Dan dengan mudahnya ia melepaskan langkah-langkah itu dan mulai menjemput kegembiraan disana.
    "Apa yang kau inginkan?"
          "Aku bawa sandwich untuk kalian. Tadi pagi, aku melihat sekantung roti yang masih utuh dan beberapa sayuran di kulkas. Jadi aku membawakan ini untuk kalian."
             "Ah baiklah kalau begitu. Kau letakkan saja di situ. Nanti akan kami makan."
             Begitu Dini menyuruh Puti untuk meletakkan sekeranjang sandwich di atas meja, Puti langsung tergerak dan meletakkannya di atas meja kayu di dekat pos satpam.
             "Din, hari ini apakah kau ada acara?"
             "Kau mau apa?"
            "Hari ini, aku punya sesuatu di taman. Sore nanti. Kau datang ya! Jangan lupa ajak Nera, Lisa, Ovit, dan Kiki"
             "Kita lihat saja nanti"
             Jawaban yang kelihatannya acuh itu membuatnya kecewa. Namun ia berusaha menghadirkan senyuman itu untuk Dini, perlahan dan akhirnya ia dapat melebarkannya. Tak terasa, bel pertanda jam pelajaran akan dimulai sudah berbunyi. Puti yang saat itu berada di depan gerbang segera menunduk dan langsung pamit kepada Dini.
          "Tak apa-apa mel, mungkin dia sedang banyak masalah"
          Begitulah kalimat yang terus ia ucapkan pada sebuah boneka kecil kesayangannya. Sejuknya angin ketika bertiup membuat Puti merasa nyaman berada di taman ini selama berjam-jam. Menimbulkan kesan tersendiri bagi anak itu. Sederhana namun menyenangkan. Begitulah sifat anak itu. Tak terasa matahari sudah  berada tegak lurus dengan kepalanya itu. Menyadari hal itu, Puti bergegas kembali ke tempat itu untuk menemui Dini-sahabatnya yang tadi pagi ia temui.
            "Dini!!"
             "Ya ada apa ya?"
             "Gimana rasa sandwichnya? enak kan?"
          "Maaf ya Put, teman-temanku tidak suka. Seladanya bau. Rotinya juga rasanya aneh. Jadi aku tidak memakannya."
          "Hemm ya. Maafkan aku ya, aku selalu menyusahkanmu. Sekali lagi aku minta maaf."
           Sambil menghela nafas, gadis itu terus berusaha untuk tersenyum walaupun saat itu dirinya ingin menangis.
             "Oh iya, jangan lupa nanti sore jan 4 ya Din!"
             "Akan ku pertimbangkan lagi. Lihat nanti ya. Put, aku duluan"
            Akhirnya sekotak sandwich yang masih utuh itu hanya bisa memandangi Puti yang saat itu hanya melamun. Mungkin aku memang tidak pandai memasak,gumamnya di dalam hati. Namun matanya kembali berbinar ketika ia mendapati Rama yang menghampirinya.
             "Hai Put, kamu sedang apa? Kok melamun?"
             "Rama.. Aku tidak apa-apa kok"
             "Jangan bohonglah putt.. Kalo bohong,kamu traktir aku ya"
             "Emm iya iya ram..lagi ga bersinar aja hari ini."
           "Eh kita duduk di sana aja yuk. Aku mau denger cerita kamu. Kamu harus cerita sama aku apa yang bikin kamu ga bersinar hari ini."
             Itulah Rama--sosok yang apa adanya namun membuat Puti merasa senang ketika Rama mendengarkannya bercerita walaupun banyak memakan waktu. Dengan kesederhanaannya ia mampu menghibur Puti. Dan setelah Puti menceritakan masalahnya, Rama selalu memberikan saran ataupun masukan untuk Puti. Dan dialah satu-satunya orang yang mau mendengarkan Puti bercerita selain benda mati yang selalu ia bawa kemana-mana
              "Jadi apa masalahmu Puti cantik?"
        "Kau tau sandwich ini? Sandwich ini enak sekali. Aku ingin sahabat baikku menghabiskannya."
              "Wah jadi ini sandwich?"
              "Nih kalo kamu mau. Silahkan makan saja"
              "Hehe aku makan ya. Tapi kamu jangan sedih begitu dong Put"
           "Tidak,aku tidak apa-apa. Tapi apa kamu tidak takut keracunan? Kata Dini rotinya itu aneh rasanya."
            "Tidak kok. Emmm roti ini tidak apa-apa kok. Tidak aneh Put. Ini enak sekali. Mayonaise ya?"
           "Iya, aku tau kalo Dini suka mayonaise. Tapi aku tidak tau kalo Dini tidak mau makan sandwich ini."
             "Sudahlah Put,jangan terlalu diambil hati. Mungkin Dini sedang ada masalah lain jadinya dia agak aneh ketika berhadapan denganmu. Dan jangan menilai orang lain dari luarnya saja. Kan kita ga tau apa yang ada di dalam hatinya"
            "Hemm ya bisa jadi seperti itu. Ram, kamu ga keberatan kan kalo nanti sore kamu dateng ke taman jam 4? Aku juga ajak Dini dan kawan-kawannya lho. Kamu mau?"
          "Tentu saja. Karena wanita cantik yang telah mengajakku langsung untuk datang, aku tidak bisa menolak"
             Puti akhirnya tersenyum lepas, sejenak melupakan apa yang ia alami ketika bertemu dengan Dini. Namun di sana ada Rama,orang yang selalu membuat Puti tersenyum,dan tertawa karenanya. Puti yang terlalu polos, tak membuat Rama bosan ketika berbicara dengannya. Justru kepolosannya itu yang akhirnya dapat membuat Puti mengungkapkan semuanya.
            Puti merasa mendapatkan kegembiraan lagi seusai bertemu dengan Rama yang baik hati. Walaupun jam tangannya masih menunjukkan pukul 14 namun dirinya terlihat begitu bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Pita-pita dan kertas warna itu terlihat memenuhi kardus kecil yang ia bawa dari rumahnya. Sebelumnya juga ia telah membeli setangkap roti,selada,keju,dan mayonaise untuk membuat sandwich yang baru.
          Burung-burung itu berkicau tidak seperti biasanya. Seakan bertanya kepada Puti ketika ia mengulurkan kertas warna yang panjang dan membentangkannya. 'Hey mau kau apakan sarangku ini?' Namun Puti tetap meneruskan apa yang dilakukannya dan justru berkata kepada burung itu 'Hai burung, sarangmu akan baik-baik saja kok. Terlebih lagi dengan kertas warna-warna ini. Ibarat sebuah crayon, kertas warna ini akan memberikan kesan yang indah untuk sarangmu. Begitu juga dengan kehidupan, dan aku punya crayonku sendiri.'
           Sudah jam 4 tepat. Namun Puti belum berhasil mendapati kehadiran Dini dan teman-temannya,maupun Rama. Dimana mereka? apa mereka lupa dengan hari ini? Namun kenyataan ini tak membuat Puti berkecil hati. Dia akan terus menunggu sampai mereka datang ke sini. Satu demi satu kertas warna-warni yang dibentangkan dari satu pohon ke pohon lain. Puti mencoba membuat mereka lurus seperti semula namun batang pohon itu sangat licin sehingga Puti terpeleset dari pohon itu. Ia sempat meringis kesakitan namun ia tetap berusaha membuat kertas warna itu kembali membentang dengan sempurna.
         15 menit...30 menit...45 menit..sampai akhirnya jam 5 tepat. Mereka semua belum juga datang. Puti yang awalnya termenung menunggu mereka namun tiba-tiba tersentak karena rentetan air dari langit mulai membasahi semua dekorasi yang Puti susun. Setelah berkemas, Puti pun bergegas untuk berteduh di bawah halte. Namun bajunya sudah terlanjur basah karena hujan yang amat deras. Perlahan air mata itu pun turun seiring dengan air hujan yang turun membasahi jalan raya. Puti berjalan sambil membawa dekorasi yang ada di dalam kardus dengan bersusah payah. Kakinya terasa sakit sekali.Ia terus berusaha untuk tersenyum walaupun langkahnya yang sedikit demi sedikit mulai menuntutnya untuk berhenti. Apa di dunia ini tidak ada yang ingin mendengarkanku? Apakah aku ini membosankan? Apa salah jika aku memiliki seorang sahabat ataupun orang terdekat yang mau mendengarkan kisahku yang pilu ini?
           Puti hanya bisa menangis dan menangis. Membenci nasibnya yang tak pernah berubah. Namun ia cukup tahu diri, bahwa tak selamanya ia akan mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Bahkan pada hari ulang tahunnya, awalnya ia hanya ingin berbagi bersama mereka--orang-orang spesial. Terutama Rama. Rama adalah satu-satunya yang mau mendengarkan Puti. Puti merasa kecewa sekali ketika Dini dan teman-temannya tidak ingin memakan sandwich buatannya dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak hadir. Dan Rama, ia telah berjanji kepada Puti. Namun Rama,orang yang sangat menyenangkan itu lupa akan hari jadi Puti yang ke 17. Rama yang sedang asyik bersama teman-temannya bermain PS di rumahnya merasa terkejut ketika ia melihat Puti yang tengah berjalan dengan susah payah di tengah hujan deras sambil membawa kardus. Oh Rama.....


        Mungkin itu yang bisa aku ceritakan malam ini.. always try to smile, smile, and smile even that's too hurt your heart :)
 
   
   
     Jakarta, 00: 36 AM
     for My Wonderful World



               
                

1 komentar :

  1. jadikan aku Rama-mu yang kamu jadikan tempat untuk bercerita. Walau ku tak mau menjadi Rama yang tidak menepati janji.

    :)

    BalasHapus