Kamis, 14 Maret 2013

Kei And Sherl

        Malam ini terasa begitu dingin. Menusuk sampai ke tulang. Keiko bingung harus berbuat apa. Dengan wajahnya yang terlihat resah tentu tidak bisa merubah keadaan. Lengannya yang ia gunakan untuk menopang  wajahnya yang datar juga terlihat gemetar. Ia tidak bisa tenang saat itu. Mengurung diri dalam kamar mungkin dapat mengobati prasangka buruknya saat itu, seperti yang ia lihat di sinetron TV. Namun nyatanya hal itu tidak berhasil. 
        Keiko kira, dirinya begitu bodoh. Ia tidak bisa membaca keadaan yang ada di sekitarnya. Dan yang paling sulit dimengerti adalah keegoisannya. Awalnya, ia tidak ingin menampakkan hal itu kepada Sherl. Sherl--orang yang kadar keistimewaannya sangat tinggi di mata Keiko, memang memiliki sifat agak sensitif, sama seperti Keiko. Sherl sendiri juga selalu mengerti dengan setiap keadaan Keiko. Sherl sangat pandai membaca wajah orang lain, terutama si gadis berkacamata itu. Entah ia belajar dari mana. 
        Hari itu adalah hari yang tak bisa ia lupakan. Sudah 4 hari Sherl tidak memberi kabar kepada Keiko. Tiap benda kecil yang selalu Keiko bawa kemana-mana itu berkelap-kelip dan berdering, wajah Keiko terlihat berbinar ketika mendapati pesan dari Sherl. Namun kali ini, rasanya sangat hambar. Keiko berusaha menahan amarahnya, berharap semoga sikap itu tidak muncul ketika ia berhadapan dengan Sherl. Seperti biasa, Keiko selalu meluangkan waktunya untuk menunggu, namun pesan itu tidak sampai juga. Dan akhirnya, Keiko pun tidak bisa menahan amarahnya sehingga sikap yang tak ia inginkan untu keluar itu keluar dengan sendirinya. Sherl datang dengan senyumannya yang hangat, namun Keiko memecahkannya. Sherl pun bertanya-tanya dan akhirnya Keiko pun sadar bahwa amarah yang berasal dari dalam dirinya lah yang mengendalikan dirinya. Namun ia terlambat. Ketika ia menyadari semua itu, Sherl pun pergi dan membawa senyuman yang pada awalnya ingin ia habiskan bersama Keiko kembali ke kamarnya. Keiko terkejut. 
         Keiko yang lugu pun memikirkan cara untuk mengendalikan dirinya. Sambil membetulkan letak kacamatanya, Keiko hanya memandang ke arah jendela kamarnya sambil bercengkrama dengan angin di balkon rumahnya. Keiko sudah mengirimkan tulisan itu kepada Sherl, namun Sherl tak membalasnya. Keiko pun hanya terdiam sambil menikmati suasana malam itu. Dingin namun ia merasa hangat. Setelah gadis itu agak terbawa suasana haru karena angin malam, tiba-tiba suara kaleng yang dilemparkan kearahnya pun membuyarkan lamunannya. Ia pun terkejut dan segera memungut kaleng itu. Ternyata kaleng itu terhubung oleh seutas benang yang memanjang sampai bawah. Dan yang ia lihat, seseorang memegang kaleng yang sama dari arah yang berlawanan dan mulai memanjat pohon yang ada di pekarangan rumah Keiko. Kemudian ia melihat orang itu memberikan aba-aba untuk memastikan benang yang ada di antara mereka itu tidak tertekuk sehingga orang itu dapat mendengar suara Keiko dengan jelas. Orang itu pun menyuruh Keiko untuk menempelkan kaleng itu ke arah telinganya.
        "Kei, maafkan aku. Masalah kemarin..."
        "Kau? Sherl?? Ah syukurlah.." 
        Keiko pun dapat tersenyum lega ketika mendapati suara Sherl dari seberang sana. Mewarnai malam biru yang awalnya terlihat menyedihkan bagi Keiko. Mereka membentangkan benang itu cukup lama. Dengan sedikit cerita yang lucu, membuat tawa Keiko kadang terdengar sampai ke kaleng yang Sherl genggam saat itu. Karena memang itulah yang Sherl harapkan dari Keiko. Gadis itu terlihat senang sekali. Dan pada malam itu juga pelangi-pelangi yang mereka harapkan akhirnya tiba di saat yang tepat. Menyenangkan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar