Rabu, 30 Januari 2013

        Sore ini sangat cerah. Rasanya sangat disayangkan apabila dilewatkan, apalagi untuk bersepeda. Bagi gadis kecil berusia 6 tahun ini, bersepeda dapat mengajarkan segala hal kepadanya. Dengan jalan pikirannya yang masih polos, ia menganggap bahwa sepeda adalah sahabat yang baik. Buktinya, Loli--begitu panggilan Mia untuk sepedanya, selalu setia menemani Mia kemana saja, bahkan ketika Mia disuruh ibunya membeli micin di warung, Loli pun selalu bersedia menemani Mia. Dengan keranjang yang memiliki pita biru di depannya, Mia selalu merasa sangat bangga dengan sepeda yang ia miliki.
         Loli juga dapat membantu Mia berbuat baik kepada semua temannya. Dengan jok belakang yang Loli miliki, Mia dapat membawa temannya ke semua tempat yang ia kehendaki. Bahkan pernah suatu hari saat hujan deras turun sesaat setelah bel sekolah berdentang, Mia melihat Winda sedang menungu di koridor sekolah. Sepertinya Winda tidak membawa payung, begitu pikiran Mia saat melihat teman sekelasnya sambil menatap hujan yang turun tidak jauh dari tempat ia berdiri.
         "Winda, kamu ga pulang? Ga bawa payung ya?" Tanya Mia sambil melihat Winda
         "Iya nih Mia, aku ga bawa payung." Ujar Winda sambil melirik sepatunya yang basah karena cipratan air hujan.
         "Ikut aku aja yuk, kita naik Loli" Ajak Mia
         "Memangnya boleh?" Tanya Winda
         "Boleh lah. Loli ga keberatan kok walaupun harus membawa kita berdua." Jawab Mia dengan singkat.
         Akhirnya mereka berdua menuju ke tempat parkir di samping gedung sekolah. Mia pun mengeluarkan jas hujan powerpuff girls dan mengenakannya bersama Winda, akhirnya Mia pun pulang bersama Winda. Ditemani dengan turunnya hujan yang berentetan saat itu, namun kedua anak itu terlihat kegirangan. Bahkan saat itu, mereka berdua berteriak sepanjang jalan. Menyenangkan sekali. Itulah yang Mia sukai, ia senang membantu temannya.
          Setelah sekian lama berkeliling di taman dekat rumah, Mia melihat anak-anak sedang berkumpul di taman. Motor itu bukannya untuk orang besar saja ya-- itulah pikiran yang berhasil tergambarkan dalam benak Mia ketika ia melihat anak-anak itu bermain motor. Dengan bangganya mereka membunyikan gas motor dengan keras sehingga menimbulkan suara deruman yang keras, bahkan suara lonceng milik Loli sekalipun. Sangat aneh sekali didengar. Lebih menyenangkan ketika kita bermain sepeda,begitu lanjutan kalimat yang diucapkan Mia saat itu.
       

Selasa, 29 Januari 2013

Ketika apa yang kau sukai menjadi bumerang untuk orang lain

     Hari ini, Filia hanya duduk termenung di bangku belakang. Ya, karena hanya di tempat itu saja ia bisa men"charge" si Camble kesayangannya. Sambil berpikir sesekali, ia pun mulai mengetik. Saat itu pikirannya penuh dengan tugas dan tugas. Belum lagi, ia memang disibukkan dengan kegiatan organisasi di sekolahnya. Walaupun dia selalu sibuk, tapi gadis yang senang memakai jam tangan berwarna biru itu tidak memiliki teman akrab sampai sekarang.
     Kejadian itu dimulai ketika saat ia tengah mengikuti rapat. Ya, Filia yang terkenal cerewet dan punya banyak teman selalu mengeluarkan celotehannya di saat ia berkumpul dengan teman-temannya. Hari itu, sangat berkesan sekali. Karena berentetan kejadian yang menyenangkan berhasil terpenuhi di "Daftar Kebahagiaan" yang ia miliki di ransel indahnya. Hari itu Bayu berhasil membuat lengkungan senyum di wajah Filia terlihat lagi, padahal di malam sebelumnya Bayu membuat Filia jengkel. Ya, itu adalah kebiasaan yang normal, katanya. Setelah itu, ia juga mendapat nilai bagus saat ulangan sejarah. Banyak yang bilang, sejarah itu membosankan. Tapi menurut gadis yang imut ini, sejarah itu sangat menyenangkan. Saat itu pelajaran sejarah akhirnya berhasil menerbitkan semangat dan minat Filia sampai mencuat dan merekah ke atas hingga akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang memuaskan. Ya, tanda check list untuk kebahagiaan kedua akhirnya berhasil terpenuhi.
       Sebetulnya Filia memiliki teman, banyak teman. Teman baik,tapi tidak terlalu dekat. Pernah sesekali Filia menganggap seorang teman yang sudah dianggap soulmate nya menjadi teman dekatnya. Namun, tak disangka. Dia menjauh dan akhirnya mulai menjaga jarak. Sampai saat ini, Filia juga tidak mengerti jalan pikirannya. Bukan hanya satu orang, tapi lebih. Semua orang yang ia temui juga sama. Mereka mengganggap Filia hanyalah teman biasa, padahal Filia adalah anak yang mudah bergaul. Namun setelah melihat kejadian itu, Filia mendapatkan pengertian baru tentang berteman. Ternyata syarat untuk memiliki teman banyak tidak harus pandai bergaul. Kalo disuruh menunjukkan buktinya, Filia langsung mengacung dan mengakui dirinya memang yang menciptakan teori seperti itu.
      Namun Filia nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, normal saja. Tak usah mengharapakan orang lain datang padanya. Kali ini Filia hanya bicara seperlunya. Dan Filia sekarang mengerti, ternyata persahabatan itu tidak selamanya indah seperti yang ada di tv. Hemmm semua seperti dongeng. Filia lebih suka menulis ketika amarahnya sedang meletup-letup daripada menceritakannya kepada orang lain. ORang lain itu, hanya bayangan saja.
       Setelah mengetik beberapa paragraf di blognya, akhirnya ia pun kembali meneruskan tugasnya. Dan sekali lagi ia menegaskan, "biarkan mereka menjadi mereka, datanglah ketika mereka membutuhkan, dan bicara saja seperlunya dengan mereka, mererka hanya membutuhkan sedikit peranku, aku cukup nyaman dengan dunia ku sendiri dia dengan keadaan seperti ini.Tak perlu berharap seseorang untuk mengerti keadaanku karena mereka hanya menganggapku sebagai bayangan yang ada di belakang mereka. Dan aku pun juga tak berharap banyak dari mereka. Kadang mereka baik, kadang mereka jahat. Sesuatu yang kuanggap menyenangkan tapi tiba-tiba menjadi bumerang untuk mereka. Mereka tidak suka. Lalu ada apa? Jika mereka berada dalam tubuhku ini, apa mereka dapat merasakan seandainya sesuatu yang indah menurut mereka tiba-tiba tidak disukai oleh orang lain?  Cukup diam, senyum, dan tenang. Dan sekali lagi, aku nyaman dengan diriku sendiri" 

Jumat, 25 Januari 2013

Diam

  Saat itu, seperti biasanya, Prita sedang asyik dengan dunianya. Menggganggap semua baik-baik saja adalah  hal yang paling ia suka. Ya, dia tidak pernah mengganggap semua orang benci kepadanya. Bahkan terlebih lagi, kepada teman-temannya, gadis berambut pendek itu pun mengganggap semuanya selalu baik-baik saja.
   Ketika itu Prita hendak mengikuti rapat kepengurusan organisasi di sekolah. dia memang cukup sibuk dalam urusan itu. Setiap harinya, ia selalu senang ketika mengikuti rapat itu, walaupun kebanyakan orang tidak bisa menikmati keadaan dan  hanya berpangku tangan ketika dipaksa untuk mendengarkan sang ketua rapat memimpin jalannya rapat. Seperti biasa, ia selalu terlihat gembira dengan celotehannya yang nyablak dan menyenangkan bersama teman-temannya. Namun saat itu, kelihatannya beda dari yang biasanya. Seorang gadis berambut keriting itu datang dan menghampiri Prita yang tengah bersenda gurau di sela-sela rapat.
    "Prit, lo tuh terlalu bawel. Terlalu berisik. Terlalu over. Gausah caper gitu bisa kan?" Bentak Lisa dengan tegas.
    Prita tidak menjawab, Prita hanya termenung sambil mencoba untuk mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan Lisa ke arahnya beberapa saat yang lalu. Raut mukanya yang datar menunjukkan bahwa dirinya memang terpukul, namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu. Dia mencoba untuk bersabar, dan tetap diam walaupun banyak teman-teman yang menanyakan keadaannya yang berubah drastis kala itu. Kala itu, rasanya memang tidak mengenakkan.
     Sehari setelah kejadian itu, Prita pun mulai berubah. Ia pun mulai memilih untuk tetap berdiam diri dan megabaikan semua dunia luar yang menyentuh tubuhnya. Dengan berat hati, ia pun akhirnya memenuhi panggilan rapat sesaat setelah ia termenung di taman sekolah. Ketika itu, ia melihat Lisa dan teman-temannya  bersenda gurau ketika rapat. Rasanya itu sangat tidak adil. Belum lagi, Nia, teman baik Lisa bersenda gurau dengan Bayu. Sekali lagi, Prita menegaskan dirinya sendiri di dalam hatinya. Mungkin sampai orang-orang yang ada di sekitarnya menyadari keberadaan dirinya, ia hanya bisa termenung dan akhirnya kebahagiaannya pun mulai tersapu oleh setiap hembusan angin yang menerpa dirinya.